Kejujuran itu Kesalahan, Mau dibawa Kemana Bangsa Ini?


“Zaman sekarang udah zaman edan, yang benar disalahkan, dan yang salah dibenarkan

Ya.. Kurang lebih seperti itulah kondisi dan realita yang terjadi saat ini. Ketika kita melakukan perbuatan yang baik, selalu saja ada penentang perbuatan kita, entah yang terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Sebaliknya, ketika kita melakukan yang jelas-jelas salah, malah banyak yang mendukung dan banyak pula yang ikut-ikutan.

Contoh gamblangnya seperti mencontek saat ujian. Mencontek dipandang sebagai hal yang buruk. Namun tetap saja menjadi hal yang sering dilakukan oleh banyak orang.  Jika kondisi seperti ini dibiarkan terus-menerus maka akan berakibat  fatal. Akan tumbuh generasi-generasi muda yang bermental pengecut.

Peradaban masyarakat seharusnya sesuai dengan nilai-nilai dan hukum positif yang berlaku di suatu daerah. Namun lagi-lagi kini mental pengecut sudah melanda masyarakat pada umumnya. Akhirnya nilai-nilai positif itu hanya dianggap sebuah angin lalu yang tiada meninggalkan bekas.

Sebuah ongkos mahal untuk mempertahankan kejujuran. Hal ini dialami oleh Ibu Siami. Ia di caci , dimaki, bahkan diusir akibat melaporkan guru SDN Gadel 2 yang memaksa anaknya untuk memberikan contekan kepada teman-temannya saat ujian nasional pada 10 s.d 12 Mei 2011. Ibu siami dituduh mencemarkan nama baik kampung dan sekolah.

Dari kejadian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa saat ini kejujuran menjadi sebuah momok dan perilaku yang menakutkan di tengah masyarakat. Pasalnya kejujuran yang merupakan sebuah kebaikan malah disalahkan. Padahal kejujuran itu sendiri merupakan sebuah perilaku yang tidak menyalahi nilai-nilai positif di tengah masyarakat.

Itulah sebuah potret bangsa yang terjadi saat ini. Siswa di didik sebagai calon koruptor. Dikatakan demikian karena pada dasarnya mencontek itu sama saja dengan bakal korupsi. Meskipun terlihat sepele namun hal tersebut memang benar-benar terjadi. Nilai-nilai positif sudah tidak dijunjung lagi. Padahal seharusnya nilai-nilai positif itu ditanamkan pada anak-anak calon penerus bangsa sejak dini.

Saat ini mencontek bisa dibilang korupsi kecil untuk sekelas seorang anak kecil. Suatu saat nanti ketika cara pandang seperti ini tidak dihilangkan, bisa jadi korupsi uang Negara menjadi hal yang dipandang kecil juga oleh orang sekelas pejabat Negara. Krisis pemimpin di Indonesia saat ini sejalan dengan Krisis kejujuran. Ketika kejujuran tidak ditegakkan, maka generasi yang tumbuh di masa yang akan datang nanti adalah sebuah generasi yang bermental koruptor.

Untuk mengatasi masalah kejujuran seperti itu harus dimulai sejak anak masih usia dini. Yaitu dengan menanamkan nilai-nilai positif kepada seorang anak. Karena masa tersebut adalah masa belajar dan masa pertumbuhan baik dari segi berpikir maupun bertindak. Pemerintah benar-benar harus memperhatikan masalah kejujuran juga. Selama ini yang terasa di tengah masyarakat bahwa pendidikan hanya difokuskan pada masalah kurikulum, tanpa memperhatikan aspek-aspek pembinaan terhadap anak didik. Hal tersebut terbukti dapat dilihat diberbagai sekolah negeri yang menitik beratkan masalah prestasi siswa dibandingkan masalah pembentukan kepribadian. Harus ada sebuah mekanisme untuk melakukan pembinaan dan strategi khusus untuk menyisipkan nilai-nilai positif kepada peserta didik terutama yang masih ada dalam tataran TK, SD dan SMP. Karena disitulah masa-masa pembentukan budaya dan sikap untuk peserta didik yang sederajat dengan tingkat pendidikan tersebut.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s